Realitas COD di Indonesia
Di banyak rute logistik Indonesia, terutama untuk pengiriman ke konsumen akhir (B2C), COD masih bisa menyumbang 40-60% dari total volume transaksi.
Tantangannya: setiap rupiah yang diterima driver di lapangan adalah uang yang harus dipertanggungjawabkan - ke perusahaan, ke klien, dan ke sistem akuntansi.
Tiga titik risiko dalam alur COD
Pencatatan di lapangan: driver yang harus mencatat penerimaan COD secara manual sangat rentan kesalahan dan manipulasi.
Setor ke perusahaan: tanpa mekanisme yang jelas, uang COD bisa 'mengambang' terlalu lama di tangan driver.
Rekonsiliasi: mencocokkan catatan COD driver dengan data order dan catatan setoran kas sering menjadi proses yang menyita waktu finance setiap hari.
Praktik terbaik yang bekerja di lapangan
Konfirmasi COD digital: driver konfirmasi penerimaan kas langsung di sistem, dengan nominal yang ter-record ke order yang sesuai.
Batas maksimum kas yang boleh dipegang driver sebelum wajib setor - biasanya antara Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta tergantung profil risiko.
Laporan COD harian otomatis yang membandingkan kas yang seharusnya diterima dengan kas yang dilaporkan disetor. Selisih langsung terlihat tanpa perlu audit manual.