Cara menegosiasikan kontrak SLA yang adil untuk kedua pihak
SLA yang terlalu ketat merugikan operator logistik. SLA yang terlalu longgar tidak memberikan nilai ke pelanggan. Ini panduan untuk menemukan titik tengah yang bekerja.
Mengapa sebagian besar SLA gagal di implementasi
SLA yang baik harus bisa diukur, realistis, dan ada konsekuensinya. Masalah paling umum: SLA ditulis oleh tim procurement pelanggan tanpa memahami realitas operasional, atau ditandatangani oleh sales tanpa konsultasi dengan tim operasional.
Hasilnya adalah kontrak dengan target yang tidak mungkin dicapai secara konsisten - dan penalti yang akhirnya tidak pernah benar-benar ditagih karena kedua pihak tahu targetnya tidak realistis.
Data historis adalah fondasi negosiasi
Sebelum menegosiasikan SLA baru atau memperbarui yang lama, kumpulkan data aktual Anda: berapa OTD rate Anda di rute yang sama dalam 6 bulan terakhir? Berapa rata-rata waktu tempuh aktual vs yang dijanjikan? Apa kejadian force majeure yang paling sering terjadi?
Dengan data ini, Anda bisa masuk ke meja negosiasi dengan argumen berbasis fakta, bukan perkiraan. Dan Anda bisa menunjukkan dengan tepat kondisi seperti apa yang membutuhkan pengecualian dalam kontrak.
Tiga klausul yang sering dilupakan
Force majeure yang spesifik: 'kondisi di luar kendali' terlalu kabur. Tentukan secara eksplisit: banjir di rute tertentu, unjuk rasa, dan lainnya.
Jendela pengiriman yang realistis: pengiriman dalam 2 jam ke seluruh Jakarta tidak mungkin dilakukan secara konsisten. Lebih baik komitmen 4 jam yang bisa dicapai 95% dari waktu.
Prosedur eskalasi yang jelas: ketika ada risiko breach SLA, siapa yang menghubungi siapa, dalam berapa menit, dan apa yang bisa dilakukan secara operasional untuk mitigasi.
